Namun, ada kabar yang kurang mengenakkan juga datang dari Anies Baswedan yang pada siang tadi baru saja dicopot dari jabatannya sebagai Mendikbud oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ia diketahui digantikan oleh Prof Muhajir Effendy yang tak lain adalah mantan Rektor di Universitas Muhammadiyah Malang.
Selanjutnya, pertanyaan dari masyarakat luas tentu apa penyebab dari Anies Baswedan diganti oleh Jokowi sebagai menteri?
Oleh karena itulah tentu harus mendapatkan perhatian yang cukup ekstra jika dibandingkan dengan sektor lainnya.
Kebijakan tersebut telah berlaku namun perubahan paradigma sampai dengan kasus-kasus yang ada di sektor pendidikan masih sering sekali terjadi.
Bahkan di Hari Pendidikan Nasional tahun 2016 ini terdapat beberapa kejadian yang cukup miris soal siswa sampai dengan pendidik baik di kelompok pendidikan yang formal ataupun yang informal sekalipun.
Anies diketahui memprakarsai Indonesia Mengajar untuk dapat membuat gerakan sosial yang bersifat massif di berbagai pelosok Indonesia.
Bukan hanya itu saja, alokasi dari anggaran pendidikan terus bertambah dan untuk tahun ini saja alokasi anggaran sudah mencapai Rp 407 Triliun.
Adapun terobosan lainnya yang juga telah dilakukan oleh Anies salah satunya adalah membaca buku 15 menit pertama untuk para pelajar. Orang tua juga diminta untuk mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah.
Tetapi, ternyata kebijakan yang sudah dilakukan oleh Anies tersebut belum cukup bagi Presiden Joko Widodo untuk wujud dari Nawa Cita yang ingin dicapainya.
Hal ini berarti upaya yang sudah dilakukan oleh Anies Baswedan sudah baik namun belum cukup maksimal.
Editor Picks:
- Kiprah Wiranto: Gagal Capres, Cawapres, Capres lagi, Akhirnya jadi Menteri Jokowi
- Sri Mulyani Back to Jokowi, Ini Alasannya dulu mundur di Era SBY
- Daftar Lengkap 12 Reshuffle Kabinet Kerja Jokowi-JK Jilid II
- Jelang Reshuffle Kabinet Kerja, Jokowi bilang begini di Twitter
- Klarifikasi Telak Postingan Jonru soal Jokowi hanya Pencitraan
Salah satu contoh yang nyata adalah pungutan di sekolah yang masih sering sekali terjadi. Mulai dari pungutan beli buku, seragam, kaos kaki sampai dengan sumbangan pendidikan dengan sangat mudah kita jumpai di sekolah.
Padahal di berbagai regulasi yang ada seperti pada PP PP 48 Tahun 2008 Tentang Pendanaan Pendidikan. Lalu di dalam tata kelola guru, berbagai macam upaya peningkatan kualitas guru tak banyak mendorong perbaikan dari kualitas guru.
Adapun hal yang paling mendapat perhatian dari masyarakat yaitu dihentikannya soal implementasi kurikulum 2013.
Masyarakat mempertanyakan soal pergantian kurikulum yang akan berujung pada tambahan pengeluaran sementara untuk para guru, perubahan kurikulum tersebut akan menjadi pekerjaan tersendiri.
Apalagi bila berdasarkan hasil UKG, hanya ada 40 persen peserta saja yang lulus di atas angka rata-rata dan untuk nilai baik hanya 25 persen saja.Sedangkan untuk sisanya sangat memprihatinkan.
Terobosan untuk dapat meningkatkan kualitas guru di dalam proses pembelajaran juga tak begitu terlihat hasilnya. Kekerasan yang terjadi di sekolah malah menjadi masalah yang mencuat ke publik.
Selanjutnya, semoga Prof Muhajir Effendy dapat memberikan perubahan yang baik di dunia pendidikan Indonesia.
Penulis: Atta Pratama
0 comments:
Post a Comment